CCTA dan CACS di Banda Aceh — Deteksi Dini Jantung Koroner Tanpa Operasi
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Kini tersedia metode skrining non-invasif berupa **CT Coronary Angiography (CCTA)** dan **Coronary Artery Calcium Scoring (CACS)** yang mampu mendeteksi penyempitan maupun penumpukan plak pada pembuluh darah jantung tanpa tindakan operasi atau kateterisasi.

CCTA dan CACS di Banda Aceh — Deteksi Dini Jantung Koroner Tanpa Operasi
Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia dan Provinsi Aceh.
Banyak kasus penyakit jantung baru diketahui ketika sudah terjadi serangan jantung atau penyumbatan pembuluh darah yang berat. Padahal, perkembangan teknologi pencitraan kini memungkinkan deteksi dini sebelum gejala berat muncul.
Salah satu metode skrining yang semakin banyak digunakan adalah CT Coronary Angiography (CCTA) dan Coronary Artery Calcium Scoring (CACS).
Kedua pemeriksaan ini mampu mendeteksi penyempitan maupun pengerasan pembuluh darah jantung tanpa tindakan operasi maupun pemasangan kateter.
Di RS Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR), layanan CCTA dan CACS tersedia sebagai bagian dari program Medical Check Up (MCU) untuk membantu mendeteksi risiko penyakit jantung sejak dini.
Apa Itu CCTA dan CACS?
Walaupun sama-sama menggunakan teknologi CT Scan, CCTA dan CACS memiliki tujuan yang berbeda.
CT Coronary Angiography (CCTA)
CT Coronary Angiography (CCTA) merupakan pemeriksaan CT Scan khusus yang digunakan untuk melihat kondisi pembuluh darah koroner secara detail.
Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan cairan kontras melalui pembuluh darah vena di lengan sehingga dokter dapat memperoleh gambaran tiga dimensi mengenai arteri koroner.
Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menilai adanya:
- Penyempitan pembuluh darah koroner (stenosis).
- Penumpukan plak aterosklerosis.
- Kelainan struktur pembuluh darah jantung.
- Risiko penyakit jantung koroner.
Berapa Lama Pemeriksaannya?
Prosedur CCTA berlangsung sekitar 15–30 menit.
Pemeriksaan ini bersifat non-invasif, sehingga:
- Tidak memerlukan sayatan.
- Tidak menggunakan kateter ke pembuluh darah jantung.
- Pasien hanya diminta berbaring di meja CT Scan selama proses pengambilan gambar.
Coronary Artery Calcium Scoring (CACS)
Coronary Artery Calcium Scoring (CACS) adalah pemeriksaan CT Scan tanpa menggunakan cairan kontras.
Tujuan pemeriksaan ini adalah mengukur jumlah kalsium yang mengendap pada dinding pembuluh darah koroner.
Endapan kalsium tersebut merupakan tanda awal terjadinya aterosklerosis, yaitu proses penumpukan plak lemak yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit.
Interpretasi Skor CACS (Agatston Score)
Hasil pemeriksaan CACS dinyatakan dalam bentuk skor.
| Skor | Interpretasi | Tingkat Risiko |
|---|---|---|
| 0 | Tidak ditemukan plak kalsifikasi | Risiko sangat rendah |
| 1–100 | Plak minimal | Risiko ringan |
| 101–400 | Plak sedang | Risiko menengah |
| >400 | Plak ekstensif | Risiko tinggi |
Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin besar kemungkinan seseorang memiliki penyakit jantung koroner dan memerlukan evaluasi maupun terapi lebih lanjut.
Perbedaan CCTA dengan Kateterisasi Jantung
Walaupun sama-sama digunakan untuk mengevaluasi pembuluh darah jantung, CCTA dan kateterisasi memiliki beberapa perbedaan mendasar.
| Aspek | CCTA | Kateterisasi Jantung |
|---|---|---|
| Sifat pemeriksaan | Non-invasif | Invasif |
| Kontras | Melalui vena di lengan | Melalui arteri |
| Durasi | 15–30 menit | 45–90 menit |
| Rawat inap | Tidak diperlukan | Memerlukan observasi |
| Risiko | Sangat rendah | Lebih tinggi (perdarahan, infeksi, aritmia) |
| Biaya | Lebih terjangkau | Lebih tinggi |
| Hasil | Anatomi pembuluh darah dan skor kalsium | Anatomi sekaligus tindakan intervensi bila diperlukan |
Pada banyak kasus, CCTA menjadi pemeriksaan awal (gatekeeper) sebelum dokter memutuskan apakah pasien benar-benar memerlukan tindakan kateterisasi jantung.
Dengan demikian, pasien yang tidak membutuhkan tindakan invasif dapat menghindari prosedur yang tidak diperlukan.
Mengapa Skrining Jantung Penting untuk Masyarakat Aceh?
Penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia.
Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia sebesar 1,5%, sedangkan Aceh memiliki prevalensi faktor risiko kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Artinya, masyarakat Aceh memiliki risiko yang cukup besar mengalami penyakit jantung apabila faktor-faktor risiko tidak dikendalikan sejak dini.
Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain:
- Pola makan tinggi lemak dan santan.
- Kebiasaan merokok.
- Kurangnya aktivitas fisik.
- Hipertensi.
- Diabetes melitus.
- Obesitas.
- Riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Dengan tingginya faktor risiko tersebut, skrining jantung menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit sebelum muncul gejala atau komplikasi serius.
Siapa yang Membutuhkan Pemeriksaan CCTA atau CACS?
Tidak semua orang memerlukan pemeriksaan CCTA maupun CACS.
Berdasarkan rekomendasi berbagai pedoman internasional, pemeriksaan ini lebih dianjurkan pada individu dengan risiko penyakit jantung tertentu.
1. Pasien dengan Nyeri Dada yang Belum Jelas Penyebabnya
CCTA membantu mengetahui apakah keluhan nyeri dada disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner atau bukan.
2. Pasien dengan Risiko Kardiovaskular Menengah hingga Tinggi
Misalnya seseorang yang memiliki:
- Hipertensi.
- Diabetes.
- Kolesterol tinggi.
- Obesitas.
- Riwayat merokok.
3. Penyandang Diabetes Melitus
Terutama penderita diabetes yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun, karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami aterosklerosis.
4. Memiliki Riwayat Keluarga Penyakit Jantung
Risiko meningkat apabila terdapat anggota keluarga inti yang mengalami serangan jantung pada usia muda, yaitu:
- Pria sebelum usia 55 tahun.
- Wanita sebelum usia 65 tahun.
5. Hasil Treadmill Test yang Masih Meragukan
CCTA dapat digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan apabila hasil treadmill test belum memberikan kepastian diagnosis.
6. Sebelum Operasi Besar Non-Jantung
Pada pasien dengan risiko penyakit jantung tinggi, dokter dapat menyarankan pemeriksaan CCTA sebelum menjalani operasi besar untuk menilai keamanan tindakan.
CACS sebagai Pemeriksaan Skrining
Untuk pasien yang belum memiliki gejala penyakit jantung, CACS lebih sering dipilih sebagai pemeriksaan skrining awal.
Keunggulannya antara lain:
- Tidak memerlukan kontras.
- Paparan radiasi lebih rendah.
- Waktu pemeriksaan lebih singkat.
- Dapat membantu menentukan kebutuhan terapi penurun kolesterol (statin).
Persiapan Sebelum Pemeriksaan CCTA/CACS
Agar hasil pemeriksaan optimal, pasien perlu melakukan beberapa persiapan berikut.
Puasa
Pasien dianjurkan tidak makan maupun minum selain air putih selama 4–6 jam sebelum pemeriksaan.
Hindari Minuman Berkafein
Kopi, teh, minuman energi, maupun minuman berkafein lainnya sebaiknya dihindari selama 12 jam sebelum pemeriksaan karena dapat meningkatkan denyut jantung.
Informasikan Semua Obat yang Sedang Dikonsumsi
Sampaikan kepada dokter apabila sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, terutama:
- Metformin.
- Beta blocker.
- Obat tekanan darah.
- Obat pengencer darah.
Gunakan Pakaian yang Nyaman
Disarankan menggunakan pakaian tanpa logam agar proses pemeriksaan berjalan lebih mudah.
Bagaimana Prosedur Pemeriksaannya?
Durasi Pemeriksaan
CCTA
- Waktu pemeriksaan sekitar 15–30 menit.
- Pasien diminta berbaring di atas meja CT Scan.
- Pada beberapa tahap, pasien diminta menahan napas selama 10–15 detik.
CACS
- Durasi lebih singkat, sekitar 5–10 menit.
- Tidak memerlukan suntikan kontras.
Apakah Pemeriksaannya Menyakitkan?
Tidak.
Baik CCTA maupun CACS merupakan prosedur non-invasif sehingga tidak menimbulkan rasa nyeri.
Pada pemeriksaan CCTA, sebagian pasien hanya merasakan sensasi hangat selama beberapa detik ketika cairan kontras disuntikkan melalui pembuluh darah vena.
Sensasi tersebut merupakan hal yang normal dan akan segera menghilang.
Keunggulan Layanan CCTA dan CACS di RSPUR Banda Aceh
RS Pertamedika Ummi Rosnati menghadirkan layanan skrining jantung modern yang didukung fasilitas lengkap.
Keunggulan layanan meliputi:
- Pemeriksaan CCTA dan CACS tersedia sebagai bagian dari paket Medical Check Up (MCU).
- Hasil pemeriksaan dapat diperoleh maksimal dalam 1 × 24 jam.
- Didukung laboratorium dan radiologi dalam satu gedung.
- Ditangani oleh tim dokter spesialis jantung yang berpengalaman.
- Rumah sakit telah terakreditasi Paripurna KARS.
Dokter Spesialis Jantung yang tersedia di RSPUR antara lain:
- dr. Lyra Febrianda, Sp.JP(K)-FIHA
- Dr. dr. M. Ridwan, Sp.JP, Subsp.P.R.KU(K), FIHA, FAsCC
- dr. Nurkhalis, Sp.JP-FIHA, FAsCC
- dr. Said Qadaru Alaydrus, Sp.JP-FIHA
- dr. Muhammad Rizki, Sp.JP-FIHA
- dr. Maha Fitra ND, Sp.JP(K)-FIHA, FAsCC
Estimasi Biaya Pemeriksaan
Sebagai gambaran umum di Indonesia:
| Pemeriksaan | Estimasi Biaya |
|---|---|
| CACS | Rp495.000 – Rp2.000.000 |
| CCTA | Rp3.000.000 – Rp8.000.000 |
Biaya tersebut dapat berbeda tergantung kebutuhan klinis dan paket pemeriksaan yang dipilih.
Untuk memperoleh informasi biaya terbaru, masyarakat dapat menghubungi layanan informasi RSPUR melalui WhatsApp atau telepon resmi rumah sakit.
Kapan Hasil CCTA atau CACS Memerlukan Penanganan Lebih Lanjut?
Interpretasi hasil pemeriksaan dilakukan oleh Dokter Spesialis Jantung.
Secara umum:
| Hasil | Rekomendasi |
|---|---|
| CACS 0 + CCTA normal | Risiko rendah. Pertahankan gaya hidup sehat dan evaluasi ulang sesuai anjuran dokter. |
| CACS 1–100 | Risiko ringan. Disarankan modifikasi gaya hidup dan mempertimbangkan terapi penurun kolesterol sesuai indikasi. |
| CACS 101–400 | Risiko sedang. Memerlukan evaluasi lebih lanjut serta terapi yang lebih intensif. |
| CACS >400 atau stenosis >70% pada CCTA | Risiko tinggi. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan, kateterisasi jantung, pemasangan ring (PCI), atau operasi bypass (CABG) sesuai kondisi pasien. |
Keputusan terapi tetap ditentukan berdasarkan kondisi klinis secara menyeluruh oleh Dokter Spesialis Jantung.
Hubungi RSPUR Banda Aceh
Apabila Anda memiliki faktor risiko penyakit jantung atau ingin melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, layanan CCTA dan CACS tersedia di RS Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR) sebagai bagian dari program Medical Check Up (MCU).
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR)
📍 Alamat
Jl. Sekolah No. 5, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23241
📞 Telepon
(0651) 35092
📱 WhatsApp Informasi & Pendaftaran
0811-6835-551
🚑 IGD 24 Jam
0813-8883-5092
📧 Email
office@rspur.co.id
🌐 Website
https://www.rspur.co.id
Jadwal Dokter Jantung
https://www.rspur.co.id/jadwal
Informasi Medical Check Up
https://www.rspur.co.id/layanan/medical-checkup
Kesimpulan
Penyakit jantung koroner dapat berkembang tanpa gejala hingga akhirnya menyebabkan serangan jantung yang mengancam jiwa.
Pemeriksaan CT Coronary Angiography (CCTA) dan Coronary Artery Calcium Scoring (CACS) memberikan kesempatan untuk mendeteksi penyempitan maupun penumpukan plak pada pembuluh darah koroner sejak dini tanpa prosedur invasif.
Melalui layanan Medical Check Up (MCU) yang didukung fasilitas radiologi modern serta tim Dokter Spesialis Jantung, RSPUR Banda Aceh membantu masyarakat memperoleh deteksi dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Apabila Anda memiliki faktor risiko penyakit jantung atau ingin melakukan skrining kesehatan, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Jantung di RSPUR untuk menentukan pemeriksaan yang paling sesuai.
Disclaimer Medis
Artikel ini disusun sebagai media edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Informasi mengenai CCTA, CACS, maupun penyakit jantung koroner bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis atau pengobatan mandiri. Apabila Anda mengalami nyeri dada hebat, sesak napas berat, pingsan, atau gejala yang mengarah pada serangan jantung, segera menuju IGD 24 Jam RSPUR atau fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Pustaka
- Golub IS, Termeie OG, Kristo S, et al. Major Global Coronary Artery Calcium Guidelines. JACC Cardiovascular Imaging. 2023;16(1):98–117.
- Arnett DK, Blumenthal RS, Albert MA, et al. 2019 ACC/AHA Guideline on the Primary Prevention of Cardiovascular Disease. Circulation. 2019;140(11):e596–e646.
- Pavlović J, Bos D, Ikram MK, et al. Guideline-Directed Application of Coronary Artery Calcium Scores for Primary Prevention of Atherosclerotic Cardiovascular Disease. JACC Cardiovascular Imaging. 2025;18(4):465–475.
- Vecsey-Nagy M, Emrich T, Tremamunno G, et al. Cost-effectiveness of ultrahigh-resolution photon-counting detector coronary CT angiography for the evaluation of stable chest pain. Journal of Cardiovascular Computed Tomography. 2025;19(1):106–112.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI.
- World Health Organization. Cardiovascular Diseases (CVDs) Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024.
- Grundy SM, Stone NJ, Bailey AL, et al. 2018 AHA/ACC Guideline on the Management of Blood Cholesterol. Journal of the American College of Cardiology. 2019;73(24):e285–e350.
- Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR). Layanan Medical Check Up. Banda Aceh; 2026.
- Tsiachristas A, Chan K, Wahome E, et al. Cost-effectiveness of a novel AI technology to quantify coronary inflammation and cardiovascular risk in patients undergoing routine coronary CT angiography. European Heart Journal – Quality of Care and Clinical Outcomes. 2025;11(4):434–444.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Pertanyaan Umum
Apa perbedaan CCTA dan CACS?
CCTA dan CACS sama-sama menggunakan CT Scan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda. - **CCTA** menggunakan cairan kontras untuk melihat kondisi pembuluh darah koroner secara langsung, termasuk adanya penyempitan atau sumbatan. - **CACS** dilakukan tanpa kontras untuk mengukur jumlah kalsium pada pembuluh darah koroner sebagai indikator risiko penyakit jantung. Dokter akan menentukan jenis pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan kondisi pasien.
Apakah CCTA lebih baik daripada treadmill test?
Kedua pemeriksaan memiliki fungsi yang berbeda. Treadmill test mengevaluasi respons jantung saat aktivitas fisik, sedangkan CCTA memberikan gambaran anatomi pembuluh darah koroner dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dalam mendeteksi penyempitan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan salah satu atau kombinasi keduanya.
Apakah BPJS Kesehatan menanggung pemeriksaan CCTA atau CACS?
Pemeriksaan **CCTA** dapat ditanggung BPJS apabila terdapat indikasi medis dan dilakukan sesuai prosedur rujukan yang berlaku. Sementara itu, **CACS** yang dilakukan sebagai skrining pada individu tanpa gejala umumnya belum termasuk layanan yang ditanggung. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan petugas administrasi untuk mengetahui ketentuan yang berlaku.
Berapa lama pemeriksaan berlangsung?
Durasi pemeriksaan relatif singkat. - **CCTA:** sekitar 15–30 menit. - **CACS:** sekitar 5–10 menit. Termasuk proses persiapan, total waktu yang dibutuhkan di unit radiologi umumnya sekitar 1–2 jam.
Apakah pemeriksaan ini aman bagi penderita diabetes atau hipertensi?
Secara umum aman. Namun, pasien diabetes maupun hipertensi perlu memberi tahu dokter mengenai seluruh obat yang sedang dikonsumsi sebelum pemeriksaan. Pada beberapa kondisi, dokter dapat memberikan penyesuaian terhadap penggunaan obat tertentu, terutama bila pemeriksaan menggunakan cairan kontras.
Siapa yang sebaiknya melakukan skrining jantung?
Pemeriksaan CCTA atau CACS dapat dipertimbangkan pada individu yang memiliki: - Riwayat keluarga penyakit jantung. - Hipertensi. - Diabetes melitus. - Kolesterol tinggi. - Kebiasaan merokok. - Obesitas. - Nyeri dada yang belum diketahui penyebabnya. - Risiko penyakit jantung berdasarkan penilaian dokter.
Apakah hasil CCTA yang normal berarti tidak akan terkena penyakit jantung?
Tidak selalu. Hasil pemeriksaan menggambarkan kondisi pembuluh darah pada saat pemeriksaan dilakukan. Pola hidup sehat, kontrol faktor risiko, dan pemeriksaan berkala tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.
