Diare pada Dewasa: Gejala, Penyebab, Penanganan, dan Kapan Harus ke IGD
Diare merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang paling sering dialami orang dewasa. Sebagian besar kasus dapat membaik dalam beberapa hari, tetapi sebagian lainnya dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga memerlukan penanganan di rumah sakit.

Diare pada Dewasa: Gejala, Penyebab, Penanganan, dan Kapan Harus ke IGD
Diare adalah salah satu keluhan pencernaan paling umum di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan diare menyebabkan sekitar 1,6 juta kematian setiap tahun secara global dan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi. Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi diare pada penduduk usia ≥15 tahun sebesar 6,8%, dengan Aceh termasuk provinsi yang memiliki angka kejadian yang masih cukup tinggi.
Walaupun sering dianggap ringan, diare dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak ditangani dengan tepat, terutama karena kehilangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan dehidrasi.
Melalui artikel ini, Anda akan memahami gejala diare pada orang dewasa, berbagai penyebabnya, tanda bahaya yang perlu diwaspadai, hingga cara penanganan yang tepat.
Apa Itu Diare?
Diare adalah kondisi ketika seseorang mengalami buang air besar (BAB) dengan konsistensi cair atau lebih lunak dari biasanya, dengan frekuensi tiga kali atau lebih dalam sehari.
Berdasarkan lamanya keluhan, diare dibedakan menjadi:
| Jenis Diare | Durasi |
|---|---|
| Diare akut | Kurang dari 14 hari, umumnya disebabkan infeksi virus, bakteri, atau parasit. |
| Diare persisten | Berlangsung 14–29 hari. |
| Diare kronis | Berlangsung ≥30 hari dan lebih sering berhubungan dengan penyakit non-infeksi seperti IBS, IBD, atau gangguan penyerapan nutrisi. |
Gejala Diare pada Dewasa
Diare tidak hanya ditandai dengan sering BAB cair. Berbagai keluhan lain juga dapat menyertainya.
Gejala Utama
Beberapa gejala yang paling sering dialami antara lain:
- BAB cair atau lunak ≥3 kali sehari.
- Nyeri atau kram perut.
- Perut kembung.
- Banyak mengeluarkan gas (flatulensi).
- Rasa ingin BAB terus-menerus (urgensi/tenesmus).
- Mual.
- Muntah.
Gejala Penyerta
Gejala tertentu dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab diare.
Demam
Demam sering mengarah pada penyebab infeksi, baik oleh virus maupun bakteri.
Darah atau Lendir pada Feses
Adanya darah atau lendir dapat mengarah pada disentri yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Shigella, Salmonella, maupun parasit Entamoeba histolytica.
Feses Berwarna Hitam
Feses berwarna hitam (melena) dapat menandakan perdarahan saluran cerna bagian atas dan merupakan kondisi yang memerlukan penanganan segera.
Nyeri Hebat di Perut Kanan Bawah
Keluhan ini dapat mengarah pada radang usus buntu (apendisitis) sehingga memerlukan evaluasi dokter.
Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, terutama bila diare berlangsung lama, dapat mengarah pada penyakit kronis yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tanda-Tanda Dehidrasi
Dehidrasi merupakan komplikasi paling berbahaya dari diare karena tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.
Dehidrasi Ringan hingga Sedang
Waspadai beberapa tanda berikut:
- Rasa haus yang meningkat.
- Mulut dan bibir terasa kering.
- Urine berwarna lebih pekat dan jumlahnya berkurang.
- Kulit terasa kurang elastis.
- Pusing atau sakit kepala ringan.
Dehidrasi Berat
Segera mencari pertolongan medis apabila muncul:
- Sangat sedikit atau tidak ada urine.
- Mata tampak cekung.
- Denyut jantung cepat tetapi lemah.
- Tekanan darah menurun.
- Kebingungan atau penurunan kesadaran.
- Kram otot.
10 Penyebab Diare pada Dewasa
Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan.
1. Infeksi Virus
Virus merupakan penyebab tersering diare akut pada orang dewasa.
Virus yang paling sering menyebabkan diare antara lain:
- Norovirus.
- Rotavirus.
Norovirus sangat mudah menular dan sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) di lingkungan tertutup seperti sekolah, kapal pesiar, rumah sakit, maupun panti.
2. Infeksi Bakteri
Bakteri penyebab diare biasanya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Beberapa bakteri yang paling sering ditemukan meliputi:
- Escherichia coli (ETEC).
- Salmonella.
- Shigella.
- Vibrio cholerae.
- Campylobacter.
- Clostridioides difficile, terutama setelah penggunaan antibiotik.
3. Infeksi Parasit
Beberapa parasit yang dapat menyebabkan diare antara lain:
- Giardia lamblia.
- Entamoeba histolytica.
- Cryptosporidium.
Risiko meningkat pada konsumsi air yang kurang bersih atau sanitasi yang kurang baik.
4. Keracunan Makanan (Food Poisoning)
Keracunan makanan akibat toksin bakteri dapat menyebabkan diare yang muncul hanya beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Penyebab yang sering ditemukan meliputi:
- Staphylococcus aureus.
- Bacillus cereus.
Pada banyak kasus, keluhan akan membaik dalam waktu sekitar 24 jam.
5. Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan salah satu penyebab diare kronis yang cukup sering ditemukan, terutama pada orang dewasa muda.
Ciri-ciri IBS meliputi:
- Diare yang bergantian dengan sembelit.
- Nyeri perut yang membaik setelah buang air besar.
- Keluhan sering dipicu oleh stres, makanan tertentu, atau perubahan hormon.
- Tidak disertai darah pada feses maupun penurunan berat badan yang bermakna.
6. Inflammatory Bowel Disease (IBD)
IBD merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan.
Dua bentuk utama IBD adalah:
- Penyakit Crohn.
- Kolitis ulseratif.
Gejalanya dapat berupa:
- Diare kronis.
- BAB berdarah atau berlendir.
- Nyeri perut yang menetap.
- Penurunan berat badan.
- Mudah lelah.
- Keluhan lain seperti nyeri sendi atau ruam kulit.
7. Gangguan Penyerapan Nutrisi (Malabsorpsi)
Gangguan penyerapan makanan juga dapat menyebabkan diare kronis.
Beberapa penyebab yang sering ditemukan meliputi:
Intoleransi Laktosa
Terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa pada susu dan produk olahannya sehingga menimbulkan diare, perut kembung, dan banyak gas.
Penyakit Celiac
Merupakan reaksi sistem imun terhadap gluten yang menyebabkan kerusakan usus halus sehingga penyerapan nutrisi terganggu.
Insufisiensi Pankreas
Kondisi ketika pankreas tidak menghasilkan enzim pencernaan dalam jumlah yang cukup sehingga makanan tidak dapat dicerna secara optimal.
8. Efek Samping Obat
Beberapa obat dapat menyebabkan diare sebagai efek samping, antara lain:
- Antibiotik.
- Metformin.
- Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau asam mefenamat.
- Proton Pump Inhibitor (PPI).
- Laksatif apabila digunakan secara berlebihan.
Apabila diare muncul setelah mengonsumsi obat tertentu, konsultasikan dengan dokter sebelum menghentikan atau mengganti pengobatan.
9. Stres dan Kecemasan
Hubungan antara otak dan saluran cerna (gut-brain axis) sangat erat.
Stres berkepanjangan, kecemasan, atau tekanan emosional dapat memicu maupun memperburuk diare pada sebagian orang.
Tidak sedikit orang mengalami diare sebelum presentasi, ujian, atau menghadapi situasi yang menegangkan.
10. Faktor Lingkungan dan Pola Makan
Berbagai faktor sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko diare, seperti:
- Mengonsumsi air minum yang tidak higienis.
- Makanan yang kurang matang.
- Makanan yang telah disimpan terlalu lama pada suhu ruang.
- Konsumsi makanan pedas secara berlebihan.
- Konsumsi alkohol.
- Perubahan pola makan secara mendadak.
Kapan Diare Harus Diperiksakan ke Dokter?
Sebagian besar diare akut akan membaik sendiri dalam waktu 2–3 hari.
Namun, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami:
- Diare berlangsung lebih dari 2 hari tanpa perbaikan.
- BAB disertai darah atau lendir.
- Demam tinggi (lebih dari 38,5°C).
- Mulut sangat kering.
- Buang air kecil menjadi sangat sedikit.
- Pusing akibat dehidrasi.
- Diare setelah bepergian ke daerah dengan risiko tinggi penyakit infeksi.
- Diare yang muncul setelah penggunaan antibiotik.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan penyebab dan terapi yang sesuai.
Kapan Harus Segera ke IGD?
Segera datang ke IGD 24 Jam RSPUR apabila mengalami salah satu kondisi berikut:
- Dehidrasi berat.
- Tidak mampu minum akibat muntah terus-menerus.
- BAB berwarna hitam (melena).
- BAB merah segar dalam jumlah banyak.
- Nyeri perut yang sangat hebat.
- Penurunan kesadaran.
- Kebingungan.
- Diare pada lansia dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, atau penyakit ginjal.
Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Diare?
Diagnosis diare dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan apabila diperlukan, pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Dokter akan menanyakan beberapa hal, seperti:
- Lama diare berlangsung.
- Frekuensi BAB.
- Konsistensi dan warna feses.
- Adanya darah atau lendir.
- Riwayat makanan yang dikonsumsi.
- Riwayat perjalanan.
- Riwayat penggunaan obat.
- Riwayat penyakit sebelumnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan bertujuan menilai kondisi umum pasien, terutama tanda-tanda dehidrasi, nyeri perut, tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh.
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak semua pasien memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Apabila diperlukan, dokter dapat menyarankan:
Pemeriksaan Feses
Untuk mendeteksi:
- Infeksi bakteri.
- Infeksi parasit.
- Darah samar.
- Kultur bakteri.
Pemeriksaan Darah
Dilakukan untuk menilai:
- Tanda infeksi.
- Derajat dehidrasi.
- Gangguan elektrolit.
Kolonoskopi
Dilakukan pada pasien dengan diare kronis apabila dicurigai mengalami penyakit radang usus (IBD), keganasan, atau penyebab lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
CT Scan Abdomen
Pemeriksaan ini hanya dilakukan apabila dokter mencurigai adanya penyakit lain di rongga perut yang tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan biasa.
Penanganan Diare pada Dewasa
Penanganan diare bertujuan mengganti cairan yang hilang, mengatasi penyebab, serta mencegah komplikasi.
Rehidrasi: Langkah Pertama yang Paling Penting
Mengganti cairan tubuh merupakan terapi utama pada hampir semua kasus diare.
WHO merekomendasikan penggunaan Oral Rehydration Solution (ORS) atau oralit sebagai terapi lini pertama.
Pilihan cairan yang dapat digunakan meliputi:
- Oralit sesuai petunjuk penggunaan.
- Cairan elektrolit yang tersedia di apotek.
- Larutan gula dan garam buatan sendiri apabila oralit tidak tersedia (sesuai anjuran tenaga kesehatan).
Selama diare, hindari minuman seperti:
- Minuman bersoda.
- Jus buah yang terlalu manis.
- Kopi.
- Minuman beralkohol.
Pola Makan Saat Diare
Penderita diare tetap dianjurkan untuk makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
Beberapa makanan yang umumnya lebih mudah dicerna antara lain:
- Pisang.
- Nasi.
- Saus apel (applesauce).
- Roti panggang (toast).
Sebaiknya hindari:
- Makanan berlemak.
- Makanan pedas.
- Makanan tinggi serat.
- Produk susu (kecuali yogurt sesuai toleransi).
- Makanan mentah.
Pengobatan
Obat diberikan sesuai penyebab diare dan kondisi pasien.
Beberapa terapi yang dapat dipertimbangkan dokter meliputi:
- Loperamide untuk diare non-infeksi tanpa darah dan tanpa demam tinggi.
- Probiotik sebagai terapi tambahan untuk membantu memulihkan keseimbangan flora usus.
- Antibiotik hanya apabila terdapat dugaan kuat atau bukti infeksi bakteri tertentu.
- Terapi cairan intravena apabila terjadi dehidrasi berat atau pasien tidak dapat minum.
Cara Mencegah Diare
Mencegah diare jauh lebih baik daripada mengobatinya. Sebagian besar kasus diare dapat dicegah melalui kebiasaan hidup bersih dan pengelolaan makanan yang baik.
Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi:
- Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah dari toilet, dan sebelum mengolah makanan.
- Mengonsumsi air minum yang telah dimasak atau berasal dari sumber yang aman.
- Memastikan makanan dimasak hingga matang sempurna.
- Menyimpan makanan pada suhu yang tepat agar tidak mudah terkontaminasi bakteri.
- Mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
- Menghindari konsumsi makanan yang sudah kedaluwarsa atau disimpan terlalu lama.
- Menjaga kebersihan peralatan makan dan dapur.
- Menggunakan antibiotik hanya sesuai anjuran dokter.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menurunkan risiko diare akibat infeksi maupun keracunan makanan.
Diare di Aceh: Mengapa Tetap Perlu Diwaspadai?
Sebagai daerah beriklim tropis dengan curah hujan yang relatif tinggi, Aceh masih menghadapi tantangan penyakit infeksi saluran cerna, termasuk diare.
Faktor-faktor seperti sanitasi lingkungan, kualitas air bersih, kebersihan makanan, serta perilaku hidup bersih dan sehat sangat memengaruhi angka kejadian diare di masyarakat.
Karena itu, edukasi mengenai kebersihan tangan, keamanan pangan, serta penanganan dini diare tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Penanganan Diare di RSPUR Banda Aceh
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR) menyediakan layanan komprehensif bagi pasien dengan diare, baik yang masih ringan maupun yang telah mengalami komplikasi.
Pasien akan dievaluasi untuk menentukan penyebab diare, tingkat dehidrasi, serta kebutuhan terapi sesuai kondisi klinis.
Layanan yang Tersedia
Penanganan diare di RSPUR didukung oleh berbagai layanan, antara lain:
- Poliklinik Penyakit Dalam.
- IGD 24 Jam untuk kondisi kegawatdaruratan.
- Laboratorium untuk pemeriksaan darah, elektrolit, maupun pemeriksaan feses sesuai indikasi.
- Rawat Inap bagi pasien yang mengalami dehidrasi sedang hingga berat atau memerlukan observasi lebih lanjut.
- Farmasi untuk pemberian terapi sesuai hasil evaluasi dokter.
Dengan dukungan fasilitas tersebut, pasien dapat memperoleh penanganan yang cepat dan sesuai dengan penyebab diare.
Hubungi RSPUR Banda Aceh
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR)
📍 Alamat
Jl. Sekolah No. 5, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23241
📞 Telepon
(0651) 35092
📱 WhatsApp Informasi & Janji Temu
0811-6835-551
🚑 IGD 24 Jam & Ambulans Gratis
0813-8883-5092
📧 Email
office@rspur.co.id
🌐 Website
https://www.rspur.co.id
Jadwal Dokter
https://www.rspur.co.id/jadwal
Buat Janji Temu Online
Kesimpulan
Diare pada orang dewasa merupakan kondisi yang umum terjadi dan sebagian besar dapat membaik dengan penanganan yang tepat, terutama melalui rehidrasi dan menjaga asupan nutrisi.
Namun, diare juga dapat menjadi kondisi yang serius apabila disertai dehidrasi berat, perdarahan saluran cerna, demam tinggi, atau berlangsung berkepanjangan. Mengenali gejala sejak dini serta mengetahui kapan harus berkonsultasi ke dokter maupun datang ke IGD sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Melalui layanan Poliklinik Penyakit Dalam, Laboratorium, Rawat Inap, dan IGD 24 Jam, RSPUR siap memberikan pelayanan yang komprehensif bagi masyarakat Banda Aceh dalam menangani berbagai penyebab diare.
Disclaimer Medis
Artikel ini disusun sebagai media edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Setiap pasien memiliki penyebab dan tingkat keparahan diare yang berbeda sehingga diagnosis dan pengobatan harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan medis. Apabila Anda mengalami tanda-tanda dehidrasi berat, BAB berdarah, muntah terus-menerus, penurunan kesadaran, atau kondisi darurat lainnya, segera kunjungi IGD 24 Jam RSPUR atau fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (WHO). Diarrhoeal Disease. Geneva: WHO; 2024.
- World Health Organization (WHO). Guidelines for the Management of Acute Diarrhea.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Tata Laksana Diare pada Dewasa.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Acute Diarrhea. 2024.
- American College of Gastroenterology (ACG). Clinical Guideline: Acute Infectious Diarrhea in Adults.
- European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ESCMID). Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis.
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Diarrhoea and Vomiting Caused by Gastroenteritis.
- World Gastroenterology Organisation (WGO). Acute Diarrhea Guidelines.
- Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR). Profil Layanan Penyakit Dalam, Laboratorium, dan IGD. Banda Aceh: RSPUR; 2026.
Pertanyaan Umum
Berapa lama diare normalnya berlangsung?
Sebagian besar diare akut akibat infeksi virus akan membaik dalam waktu **2–3 hari**, dan umumnya sembuh dalam waktu kurang dari **14 hari**. Apabila diare berlangsung lebih lama atau disertai tanda bahaya, segera periksakan diri ke dokter.
Apakah semua diare memerlukan antibiotik?
Tidak. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan apabila terdapat indikasi infeksi bakteri tertentu berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
Apa yang harus diminum saat diare?
Cairan terbaik adalah **oralit (ORS)** karena mengandung air dan elektrolit dalam komposisi yang tepat untuk menggantikan cairan yang hilang. Selain itu, penderita dianjurkan tetap minum air putih yang cukup dan menghindari minuman manis berlebihan, alkohol, serta minuman berkafein.
Apakah diare boleh tetap makan?
Ya. Penderita diare tetap dianjurkan makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Pilih makanan yang mudah dicerna, seperti nasi, pisang, sup bening, kentang rebus, atau roti panggang, serta hindari makanan berlemak, pedas, dan terlalu manis.
Kapan diare menjadi kondisi yang berbahaya?
Segera cari pertolongan medis apabila diare disertai: - Darah pada feses. - Demam tinggi. - Dehidrasi berat. - Nyeri perut hebat. - Muntah terus-menerus. - Penurunan kesadaran. - Diare yang berlangsung lebih dari dua hari tanpa perbaikan atau lebih dari 14 hari.
Apakah diare bisa dicegah?
Ya. Risiko diare dapat dikurangi dengan menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan dan minuman yang aman, menjaga sanitasi lingkungan, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari.
