Sakit Kepala pada Anak: Panduan Orang Tua dari Dokter Spesialis
Sakit kepala pada anak merupakan keluhan yang cukup sering terjadi dan tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, beberapa kondisi memerlukan pemeriksaan segera karena dapat menjadi tanda gangguan yang membutuhkan penanganan medis.

Sakit Kepala pada Anak: Panduan Orang Tua dari Dokter Spesialis
Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak mengeluhkan sakit kepala. Apakah hal tersebut hanya kelelahan biasa, atau justru menjadi tanda penyakit yang serius?
Faktanya, sakit kepala pada anak jauh lebih sering terjadi daripada yang diperkirakan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50–75% anak pernah mengalami sakit kepala sebelum usia 15 tahun.
Sebagian besar kasus memang tidak berbahaya dan dapat membaik dengan istirahat atau perubahan gaya hidup. Namun, ada pula kondisi tertentu yang memerlukan evaluasi medis segera agar penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin.
Seberapa Sering Sakit Kepala Terjadi pada Anak?
Sakit kepala merupakan salah satu keluhan neurologis yang cukup sering ditemukan pada anak dan remaja.
Beberapa data epidemiologi menunjukkan bahwa:
- Sekitar 50–75% anak pernah mengalami sakit kepala sebelum usia 15 tahun.
- Sekitar 10–20% anak usia sekolah mengalami sakit kepala berulang (kronis).
- Migren ditemukan pada sekitar 3% anak usia 3–7 tahun dan meningkat menjadi 5–10% pada usia 7–15 tahun.
- Sebelum pubertas, angka kejadian migren hampir sama antara anak laki-laki dan perempuan. Setelah pubertas, migren lebih sering dialami oleh anak perempuan.
Di Indonesia, Riskesdas 2018 juga menunjukkan bahwa gangguan sistem saraf, termasuk sakit kepala, merupakan salah satu keluhan kesehatan yang cukup sering dialami anak usia sekolah.
Penyebab Sakit Kepala pada Anak
Secara umum, sakit kepala pada anak dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:
- Sakit kepala primer, yaitu sakit kepala yang tidak disebabkan oleh penyakit lain.
- Sakit kepala sekunder, yaitu sakit kepala yang muncul akibat kondisi medis tertentu, seperti infeksi, gangguan penglihatan, atau penyakit lainnya.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan.
1. Sakit Kepala Tipe Tegang (Tension-Type Headache)
Sakit kepala tipe tegang merupakan jenis yang paling sering dialami anak dan diperkirakan mencakup sekitar 60–70% dari seluruh kasus sakit kepala pada anak.
Ciri-cirinya meliputi:
- Nyeri terasa seperti ditekan atau diikat.
- Umumnya terjadi di kedua sisi kepala.
- Tidak disertai mual atau muntah.
- Biasanya membaik setelah beristirahat.
Beberapa faktor yang dapat memicunya antara lain:
- Kurang tidur.
- Jadwal tidur yang tidak teratur.
- Stres akibat sekolah atau lingkungan sosial.
- Posisi duduk yang kurang baik saat belajar.
- Penggunaan gadget dalam waktu lama.
- Dehidrasi.
- Terlambat makan atau melewatkan waktu makan.
2. Migren pada Anak
Migren pada anak memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dibandingkan pada orang dewasa.
Beberapa cirinya antara lain:
- Durasi serangan umumnya 2–72 jam.
- Nyeri sering dirasakan di kedua sisi kepala.
- Dapat disertai mual dan muntah.
- Sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
- Sensitif terhadap suara (fonofobia).
Sekitar 20% anak dengan migren mengalami aura, yaitu gangguan penglihatan atau gejala neurologis lain yang muncul sebelum sakit kepala.
Pada anak usia lebih kecil, migren juga dapat muncul dalam bentuk abdominal migraine, yaitu nyeri perut berulang yang disertai mual tanpa keluhan sakit kepala yang jelas.
Faktor yang dapat memicu migren meliputi:
- Riwayat keluarga dengan migren.
- Kurang tidur.
- Dehidrasi.
- Makanan tertentu, seperti cokelat, keju, atau makanan tinggi MSG.
- Perubahan cuaca.
- Stres emosional.
3. Infeksi
Infeksi merupakan penyebab tersering sakit kepala sekunder pada anak.
Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan sakit kepala antara lain:
- Infeksi saluran napas atas (ISPA).
- Influenza.
- Sinusitis.
- Radang tenggorokan (faringitis).
- Infeksi telinga tengah (otitis media).
Selain itu, infeksi yang lebih serius seperti meningitis dan ensefalitis juga dapat menimbulkan sakit kepala yang hebat, terutama bila disertai demam tinggi dan kaku kuduk.
4. Gangguan Penglihatan
Gangguan refraksi seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme dapat menyebabkan sakit kepala, terutama setelah membaca atau melihat layar dalam waktu lama.
Ciri-cirinya antara lain:
- Nyeri terutama di daerah dahi atau pelipis.
- Muncul setelah aktivitas yang membutuhkan fokus penglihatan.
- Berkurang setelah mata diistirahatkan.
Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan pada anak yang sering mengalami sakit kepala.
5. Penggunaan Gadget Berlebihan
Paparan layar (screen time) yang terlalu lama telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko sakit kepala pada anak.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Paparan cahaya biru (blue light).
- Ketegangan mata.
- Posisi kepala dan leher yang kurang baik saat menggunakan gadget.
Anak yang menggunakan gadget lebih dari 2 jam per hari diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami sakit kepala dibandingkan anak dengan durasi penggunaan yang lebih singkat.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menganjurkan pembatasan waktu penggunaan layar sesuai usia anak.
6. Dehidrasi dan Pola Makan
Kurangnya asupan cairan merupakan penyebab sakit kepala yang sering tidak disadari.
Anak yang aktif bermain di luar ruangan, terutama di daerah beriklim tropis seperti Banda Aceh, lebih mudah mengalami dehidrasi apabila tidak cukup minum.
Selain itu, beberapa kebiasaan berikut juga dapat memicu sakit kepala:
- Tidak sarapan.
- Melewatkan waktu makan.
- Konsumsi minuman berkafein secara berlebihan, seperti teh atau minuman bersoda.
7. Penyebab Serius yang Perlu Diwaspadai
Walaupun jarang terjadi, sakit kepala pada anak juga dapat menjadi tanda penyakit yang lebih serius.
Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain:
- Tumor otak.
- Hidrosefalus.
- Cedera kepala akibat jatuh atau kecelakaan.
- Hipertensi pada anak.
- Gangguan metabolik, seperti diabetes atau penyakit tiroid.
Sebagian besar kondisi tersebut disertai gejala lain sehingga memerlukan pemeriksaan dokter.
Kapan Orang Tua Harus Waspada?
Sebagian besar sakit kepala pada anak bukan keadaan darurat.
Namun, terdapat beberapa tanda bahaya (red flags) yang mengharuskan anak segera diperiksakan ke dokter.
Tanda Bahaya (Red Flags)
Segera bawa anak ke dokter apabila sakit kepala disertai salah satu kondisi berikut:
- Sakit kepala muncul sangat hebat secara tiba-tiba (thunderclap headache).
- Nyeri kepala semakin berat dari hari ke hari.
- Muntah menyemprot (projectile vomiting).
- Demam tinggi disertai leher kaku.
- Anak tampak mengantuk terus, bingung, atau sulit dibangunkan.
- Kejang.
- Penglihatan kabur, ganda, atau hilang mendadak.
- Gangguan keseimbangan atau sulit berjalan.
- Sakit kepala terutama saat bangun pagi dan berkurang pada siang hari.
- Terjadi pada anak usia di bawah 3 tahun.
- Perubahan perilaku atau kepribadian yang tidak biasa.
Kondisi tersebut memerlukan evaluasi medis sesegera mungkin.
Kapan Harus Segera ke IGD?
Segera bawa anak ke IGD 24 Jam RSPUR apabila mengalami:
- Sakit kepala hebat yang muncul mendadak.
- Penurunan kesadaran.
- Kejang.
- Muntah terus-menerus.
- Demam tinggi disertai leher kaku.
- Cedera kepala disertai penurunan kesadaran atau muntah berulang.
Kondisi tersebut dapat mengarah pada keadaan darurat neurologis yang memerlukan penanganan segera.
Bagaimana Dokter Menentukan Penyebab Sakit Kepala?
Dokter Spesialis Anak atau Dokter Spesialis Saraf akan melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk menentukan penyebab sakit kepala.
1. Wawancara Medis (Anamnesis)
Dokter akan menanyakan beberapa hal, seperti:
- Seberapa sering sakit kepala muncul.
- Berapa lama setiap serangan berlangsung.
- Lokasi nyeri.
- Karakter nyeri (berdenyut, ditekan, menusuk, atau lainnya).
- Faktor yang memicu keluhan.
- Gejala penyerta seperti mual, muntah, sensitif terhadap cahaya atau suara.
- Riwayat keluarga dengan migren.
- Pola tidur, makan, aktivitas fisik, dan penggunaan gadget.
Informasi tersebut sangat membantu dalam menentukan jenis sakit kepala yang dialami anak.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan meliputi:
- Pemeriksaan neurologis lengkap.
- Pemeriksaan mata.
- Pemeriksaan telinga dan sinus.
- Pengukuran tekanan darah.
- Pemeriksaan suhu tubuh.
- Penilaian koordinasi dan keseimbangan.
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak semua anak memerlukan pemeriksaan tambahan.
Apabila ditemukan tanda bahaya atau dicurigai adanya penyakit tertentu, dokter dapat menyarankan beberapa pemeriksaan berikut.
CT Scan Kepala
Digunakan untuk membantu mendeteksi:
- Perdarahan otak.
- Cedera kepala.
- Massa atau tumor.
- Kelainan lain pada otak.
Pungsi Lumbal
Pemeriksaan ini dilakukan apabila dokter mencurigai adanya infeksi seperti meningitis atau kondisi lain yang menyebabkan peningkatan tekanan di dalam rongga kepala.
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah dapat membantu menilai adanya:
- Infeksi.
- Gangguan metabolik.
- Kelainan lain yang dapat menyebabkan sakit kepala.
Pemeriksaan Mata
Apabila dicurigai terdapat gangguan refraksi atau kelainan mata lainnya, dokter dapat menyarankan pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Mata.
Penanganan Sakit Kepala pada Anak
Penanganan disesuaikan dengan penyebab sakit kepala serta kondisi masing-masing anak.
Penanganan di Rumah
Untuk sakit kepala ringan tanpa tanda bahaya, orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Mengistirahatkan anak di ruangan yang tenang dan pencahayaannya redup.
- Memberikan kompres dingin pada dahi atau tengkuk.
- Memastikan anak minum air putih yang cukup.
- Memberikan makanan secara teratur dan tidak melewatkan waktu makan.
- Mengurangi penggunaan gadget sementara waktu.
- Memastikan anak tidur sesuai kebutuhan usianya.
Apabila diperlukan, obat pereda nyeri seperti parasetamol dapat diberikan sesuai dosis berdasarkan usia dan berat badan anak atas anjuran tenaga kesehatan.
Hindari pemberian aspirin pada anak karena dapat meningkatkan risiko Sindrom Reye, yaitu kondisi serius yang dapat menyerang hati dan otak.
Penanganan Medis
Pada sakit kepala yang berulang atau disebabkan oleh kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi sesuai penyebabnya.
Pilihan terapi dapat meliputi:
- Obat untuk mengatasi serangan migren.
- Obat pencegahan (profilaksis) apabila migren terjadi berulang.
- Pengobatan infeksi apabila penyebabnya adalah penyakit infeksi.
- Terapi gangguan penglihatan.
- Konseling psikologis apabila terdapat faktor stres atau gangguan emosional.
- Edukasi mengenai pola tidur, hidrasi, aktivitas fisik, dan pola makan sehat.
Seluruh penanganan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter serta kondisi klinis anak.
Cara Mencegah Sakit Kepala pada Anak
Sebagian besar sakit kepala pada anak dapat dikurangi dengan menerapkan pola hidup sehat dan menghindari faktor pencetusnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- Menjaga jadwal tidur yang teratur setiap hari.
- Memastikan anak minum air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi.
- Memberikan makanan bergizi secara teratur dan tidak melewatkan sarapan.
- Membatasi penggunaan gadget sesuai usia anak.
- Mengajak anak beraktivitas fisik secara rutin, minimal 60 menit setiap hari.
- Menyediakan lingkungan belajar yang nyaman dengan pencahayaan yang baik dan posisi duduk yang ergonomis.
- Membantu anak mengelola stres akibat sekolah maupun aktivitas sehari-hari.
Apabila anak sering mengalami sakit kepala, orang tua juga dapat membuat catatan sakit kepala (headache diary) yang berisi waktu munculnya keluhan, durasi, tingkat nyeri, aktivitas sebelum sakit kepala, makanan yang dikonsumsi, dan gejala penyerta. Informasi ini akan sangat membantu dokter dalam menentukan diagnosis.
Sakit Kepala pada Anak di Banda Aceh
Iklim tropis di Banda Aceh dengan suhu yang relatif tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi pada anak, terutama setelah bermain atau beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, aktivitas sekolah yang padat, penggunaan gadget yang meningkat, serta pola tidur yang kurang teratur juga dapat menjadi faktor yang memicu sakit kepala.
Apabila anak mengalami sakit kepala berulang atau keluhan tidak membaik dengan perawatan sederhana di rumah, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Layanan Anak di RSPUR Banda Aceh
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR) menyediakan layanan komprehensif untuk menangani berbagai keluhan pada anak, termasuk sakit kepala.
Pelayanan didukung oleh Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis Saraf, serta fasilitas penunjang diagnostik yang lengkap sehingga penyebab sakit kepala dapat dievaluasi secara menyeluruh.
Fasilitas yang tersedia meliputi:
- Poliklinik Anak.
- Poliklinik Saraf.
- Laboratorium.
- Radiologi (Rontgen, CT Scan, sesuai indikasi).
- Rawat Inap Anak.
- IGD 24 Jam.
- Ambulans Gratis untuk wilayah Banda Aceh dan sekitarnya sesuai ketentuan.
Dokter yang Menangani Sakit Kepala pada Anak
Dokter Spesialis Anak
Anak yang mengalami sakit kepala umumnya akan diperiksa terlebih dahulu oleh Dokter Spesialis Anak.
Dokter yang melayani di RSPUR antara lain:
- dr. Nurjannah, Sp.A(K)
- Dr. dr. Dora Darussalam, Sp.A(K)
- dr. Eka Yunita Amna, Sp.A
- dr. Silvia Yasmin Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A
- dr. Wahdini, Sp.A
- dr. Julinar, M. Biomed, Sp.A
- dr. Nora Hajarsah,M.Ked(Ped),Sp.A
Dokter Spesialis Saraf
Apabila diperlukan evaluasi lebih lanjut terhadap gangguan sistem saraf, pasien dapat dirujuk ke Dokter Spesialis Saraf.
Dokter yang melayani di RSPUR antara lain:
- dr. Nur Astini, Sp.S(K)
- dr. Cut Diana Maya Theresa, M. Ked (Neu), Sp. S
- dr. Rizkidawati, Sp.N
- dr. Teuku Ona Arief, Sp.N, AIFO - K
- dr. Dara Purnamasari, Sp.N
Hubungi RSPUR Banda Aceh
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR)
📍 Alamat
Jl. Sekolah No. 5, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23241
📞 Telepon
(0651) 35092
📱 WhatsApp Informasi & Janji Temu
0811-6835-551
🚑 IGD 24 Jam & Ambulans Gratis
0813-8883-5092
📧 Email
office@rspur.co.id
🌐 Website
https://www.rspur.co.id
Jadwal Dokter
https://www.rspur.co.id/jadwal
Buat Janji Temu Online
Kesimpulan
Sakit kepala pada anak merupakan keluhan yang cukup sering terjadi dan umumnya tidak berbahaya. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari sakit kepala tipe tegang, migren, infeksi, gangguan penglihatan, hingga dehidrasi atau penggunaan gadget yang berlebihan.
Meskipun demikian, orang tua perlu mengenali tanda-tanda bahaya seperti muntah menyemprot, kejang, demam tinggi disertai leher kaku, gangguan kesadaran, atau perubahan perilaku karena kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Melalui layanan Poliklinik Anak, Poliklinik Saraf, Laboratorium, Radiologi, Rawat Inap, serta IGD 24 Jam, RSPUR siap memberikan pelayanan komprehensif untuk membantu orang tua mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat bagi anak.
Disclaimer Medis
Artikel ini disusun sebagai media edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Setiap anak memiliki penyebab sakit kepala yang berbeda sehingga diagnosis dan pengobatan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan medis. Apabila anak mengalami sakit kepala hebat secara tiba-tiba, kejang, penurunan kesadaran, muntah berulang, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, segera kunjungi IGD 24 Jam RSPUR atau fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Pustaka
- Oskoui M, Pringsheim T, Billinghurst L, et al. Practice Guideline Update Summary: Pharmacologic Treatment for Pediatric Migraine Prevention. Neurology. 2019.
- Abu-Arafeh I, Razak S, Sivaraman B, Graham C. Prevalence of Headache and Migraine in Children and Adolescents: A Systematic Review. Dev Med Child Neurol. 2010.
- Hershey AD. Pediatric Headache. Continuum (Minneap Minn). 2015.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Kemenkes RI.
- Raieli V, Eliseo M, Pandolfi E, et al. Headache and Bacterial Meningitis in Children. J Headache Pain. 2009.
- Pointer JS. The Pattern of Visual Symptoms in Asthenopia. Ophthalmic Physiol Opt. 2001.
- Montagni I, Guisol M, Tzourio C. Association Between Screen Time, Migraine, and Physical Activity. Cephalalgia. 2016.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pedoman Pengasuhan di Era Digital. Jakarta: IDAI; 2023.
- Blau JN, Kell CA, Sperling JM. Water-Deprivation Headache: A New Headache with Two Variants. Headache. 2004.
- World Health Organization (WHO). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO; 2020.
Pertanyaan Umum
Apakah sakit kepala pada anak selalu berbahaya?
Tidak. Sebagian besar sakit kepala pada anak merupakan sakit kepala primer, seperti sakit kepala tipe tegang atau migren, yang umumnya tidak berbahaya. Namun, apabila disertai tanda bahaya seperti muntah menyemprot, demam tinggi, kejang, atau penurunan kesadaran, anak harus segera diperiksa oleh dokter.
Kapan anak harus dibawa ke dokter karena sakit kepala?
Segera konsultasikan ke dokter apabila: - Sakit kepala terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu. - Mengganggu aktivitas belajar atau bermain. - Tidak membaik dengan istirahat atau obat yang dianjurkan. - Disertai muntah, demam, gangguan penglihatan, atau gejala neurologis lainnya.
Apakah balita bisa mengalami migren?
Ya. Migren dapat terjadi bahkan pada anak usia di bawah lima tahun. Pada balita, gejalanya sering kali tidak khas dan dapat berupa nyeri perut berulang, mual, rewel, atau anak tampak menghindari cahaya dan suara.
Bolehkah memberikan obat sakit kepala kepada anak?
Parasetamol dapat diberikan sesuai dosis berdasarkan usia dan berat badan anak. Namun, **hindari pemberian aspirin** pada anak karena berisiko menyebabkan **Sindrom Reye**. Jangan memberikan obat sakit kepala secara berulang tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Apakah penggunaan gadget dapat menyebabkan sakit kepala?
Ya. Penggunaan gadget yang terlalu lama dapat menyebabkan ketegangan mata, postur tubuh yang kurang baik, serta paparan cahaya biru yang memicu sakit kepala pada sebagian anak. Karena itu, waktu penggunaan gadget perlu dibatasi sesuai rekomendasi usia.
Bagaimana cara mencegah sakit kepala pada anak?
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: - Tidur yang cukup. - Minum air putih yang cukup. - Makan secara teratur. - Membatasi screen time. - Berolahraga secara rutin. - Mengelola stres. - Melakukan pemeriksaan mata apabila dicurigai terdapat gangguan penglihatan.
