Skoliosis pada Anak: Gejala, Penyebab & Pengobatan di Banda Aceh
Kenali gejala skoliosis pada anak sejak dini, penyebab, diagnosis, serta pilihan pengobatan di Banda Aceh untuk mencegah kelengkungan tulang belakang semakin berat.

Apa Itu Skoliosis pada Anak?
Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang ditandai dengan kelengkungan (kurvatura) abnormal ke arah samping (lateral) dengan sudut Cobb lebih dari 10°. Kondisi ini cukup sering terjadi pada anak-anak dan remaja, terutama saat memasuki masa pertumbuhan cepat (growth spurt).
Deteksi dini sangat penting karena pada masa pertumbuhan, kelengkungan tulang belakang dapat bertambah apabila tidak ditangani dengan tepat. Dengan diagnosis dan terapi yang sesuai, progresi kurva dapat dicegah sehingga kualitas hidup anak tetap baik.
Perbedaan Skoliosis pada Anak dan Dewasa
Skoliosis pada anak memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pada orang dewasa.
Skoliosis pada Anak
- Berpotensi memburuk seiring pertumbuhan tulang.
- Tulang belakang masih lebih fleksibel sehingga terapi seperti brace (penyangga) dapat memberikan hasil yang lebih baik.
- Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan.
Skoliosis pada Dewasa
- Umumnya merupakan kelanjutan dari skoliosis yang telah ada sejak masa anak atau remaja.
- Kelengkungan cenderung menetap dan dapat disertai nyeri akibat proses degeneratif.
- Penanganan lebih berfokus pada mengurangi nyeri dan menjaga fungsi tubuh.
Seberapa Sering Skoliosis Terjadi?
Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi kelainan tulang belakang di Indonesia diperkirakan mencapai 1–3% pada anak usia sekolah.
Jenis skoliosis yang paling sering ditemukan adalah skoliosis idiopatik remaja, dengan risiko sekitar 4–5 kali lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki.
Gejala Skoliosis pada Anak
Pada tahap awal, skoliosis sering kali tidak menimbulkan keluhan sehingga baru disadari ketika kelengkungan mulai terlihat.
Orang tua perlu memperhatikan beberapa tanda berikut.
Bahu Tidak Sejajar
Salah satu bahu tampak lebih tinggi dibandingkan bahu lainnya.
Tulang Belikat Menonjol
Saat anak membungkuk ke depan, salah satu tulang belikat terlihat lebih menonjol dibanding sisi lainnya.
Pinggang Tidak Simetris
Lekukan pinggang kanan dan kiri tampak berbeda sehingga posisi tubuh terlihat miring.
Kepala Tidak Tepat di Tengah
Posisi kepala tampak tidak sejajar dengan panggul atau tubuh bagian bawah.
Panggul Tidak Sama Tinggi
Salah satu sisi panggul terlihat lebih tinggi sehingga panjang kaki tampak berbeda meskipun sebenarnya sama.
Pakaian Tampak Tidak Rata
Orang tua sering kali menyadari ujung baju, rok, atau celana anak tampak miring ketika dikenakan.
Gejala Berdasarkan Usia Anak
Usia 1–3 Tahun (Skoliosis Infantil)
Pada usia ini skoliosis relatif jarang terjadi.
Tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
- Postur tubuh tampak tidak simetris saat duduk atau berdiri.
- Kelengkungan punggung terlihat sejak bayi.
- Kadang disertai kelainan bawaan lainnya.
Usia 4–9 Tahun (Skoliosis Juvenil)
Pada kelompok usia ini orang tua dapat mulai melihat:
- Bahu tidak sejajar.
- Pinggang tampak tidak simetris.
- Keluhan nyeri punggung ringan pada sebagian anak.
Usia 10–18 Tahun (Skoliosis Remaja)
Kelompok usia ini merupakan periode tersering skoliosis terdeteksi karena terjadi percepatan pertumbuhan.
Gejala yang sering ditemukan meliputi:
- Bahu tidak sejajar.
- Tulang belikat menonjol.
- Pinggang miring.
- Nyeri punggung bawah.
- Perubahan postur tubuh yang semakin jelas.
Anak perempuan memiliki risiko progresi kurva yang lebih tinggi sehingga memerlukan pemantauan lebih ketat.
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila:
- Bahu kanan dan kiri tampak tidak sejajar.
- Tulang belikat terlihat menonjol.
- Pinggang tampak miring.
- Anak mengeluh nyeri punggung yang tidak membaik dalam beberapa hari.
- Ada riwayat skoliosis dalam keluarga.
- Kelengkungan tubuh tampak semakin bertambah.
Semakin dini skoliosis terdiagnosis, semakin besar peluang untuk mencegah kelengkungan bertambah berat tanpa memerlukan operasi.
Di RSPUR, pemeriksaan awal dapat dilakukan oleh dokter spesialis anak maupun dokter spesialis bedah ortopedi sesuai kondisi pasien.
Penyebab Skoliosis pada Anak
Tidak semua skoliosis memiliki penyebab yang sama.
Secara umum terdapat beberapa jenis utama berikut.
Skoliosis Idiopatik
Sekitar 80% kasus skoliosis pada anak merupakan skoliosis idiopatik, yaitu skoliosis yang penyebab pastinya belum diketahui.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik berperan penting. Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat skoliosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.
Berdasarkan usia saat mulai muncul, skoliosis idiopatik dibagi menjadi:
- Infantil: usia 0–3 tahun
- Juvenil: usia 4–9 tahun
- Adolescent (remaja): usia 10–18 tahun
Jenis terakhir merupakan yang paling sering ditemukan.
Skoliosis Kongenital
Skoliosis kongenital merupakan kelainan yang sudah ada sejak lahir akibat gangguan pembentukan tulang belakang saat perkembangan janin.
Pada beberapa anak, kondisi ini dapat disertai kelainan bawaan lain, seperti:
- Kelainan jantung
- Kelainan ginjal
- Gangguan sistem saraf
Karena itu, evaluasi menyeluruh sering kali diperlukan.
Skoliosis Neuromuskular
Jenis ini terjadi akibat gangguan pada sistem saraf atau otot, misalnya:
- Cerebral palsy
- Distrofi otot Duchenne
- Spina bifida
Gangguan tersebut menyebabkan ketidakseimbangan otot penyangga tulang belakang sehingga memicu terbentuknya kelengkungan.
Faktor Risiko Skoliosis
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko skoliosis pada anak antara lain:
- Anak perempuan memiliki risiko progresi kurva lebih tinggi.
- Riwayat skoliosis dalam keluarga.
- Masa pertumbuhan cepat (growth spurt) saat pubertas.
- Usia 10–15 tahun.
- Kelainan bawaan pada tulang belakang.
- Gangguan saraf dan otot tertentu.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Skoliosis?
Diagnosis dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Pemeriksaan Fisik (Adam's Forward Bend Test)
Anak diminta membungkukkan badan ke depan dengan kedua tangan menggantung.
Dokter akan memperhatikan apakah terdapat:
- Tulang belikat yang menonjol.
- Asimetri punggung.
- Kelengkungan tulang belakang.
Pemeriksaan sederhana ini sering digunakan sebagai skrining awal skoliosis.
2. Foto Rontgen Tulang Belakang
Rontgen merupakan pemeriksaan utama untuk memastikan diagnosis skoliosis.
Melalui foto rontgen berdiri (standing full spine X-ray), dokter dapat mengukur sudut Cobb untuk menentukan tingkat keparahan kelengkungan.
| Sudut Cobb | Tingkat Keparahan |
|---|---|
| 10°–25° | Ringan |
| 25°–45° | Sedang |
| >45° | Berat |
Hasil pengukuran ini menjadi dasar dalam menentukan pilihan terapi.
Pemeriksaan Skoliosis di Banda Aceh
Di RSPUR, pasien dapat menjalani pemeriksaan secara terintegrasi, meliputi:
- Konsultasi dokter spesialis.
- Pemeriksaan radiologi (rontgen tulang belakang).
- Evaluasi oleh dokter spesialis bedah ortopedi.
Dengan tersedianya layanan Laboratorium & Radiologi, proses pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat sehingga pasien tidak perlu berpindah ke fasilitas lain.
Pengobatan Skoliosis pada Anak
Pilihan terapi disesuaikan dengan:
- Usia anak.
- Sudut Cobb.
- Potensi pertumbuhan tulang.
- Risiko progresi kelengkungan.
Observasi
Untuk skoliosis ringan (kurva kurang dari 25°), dokter biasanya memilih observasi.
Pasien akan menjalani kontrol berkala setiap 4–6 bulan untuk memantau apakah kelengkungan bertambah.
Selama tidak terjadi progresi, anak tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari termasuk berolahraga.
Brace (Penyangga Tulang Belakang)
Apabila sudut Cobb mencapai sekitar 25°–45° dan anak masih dalam masa pertumbuhan, dokter dapat merekomendasikan penggunaan brace.
Tujuan brace adalah:
- Mencegah kelengkungan bertambah.
- Mengurangi risiko operasi.
- Menjaga postur selama masa pertumbuhan.
Cara Pemakaian Brace
- Digunakan sekitar 16–23 jam per hari.
- Dilepas saat mandi atau berenang.
- Semakin disiplin digunakan, semakin baik hasil terapinya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan brace secara konsisten dapat menurunkan risiko progresi skoliosis hingga 50–70%.
Operasi
Operasi dipertimbangkan apabila:
- Sudut Cobb lebih dari 45°–50°.
- Kelengkungan terus bertambah.
- Brace tidak lagi efektif.
- Skoliosis mengganggu fungsi tubuh.
Spinal Fusion
Merupakan prosedur operasi yang paling sering dilakukan pada skoliosis remaja.
Dokter akan memasang batang logam (rod) dan sekrup (screw) untuk meluruskan sekaligus menstabilkan tulang belakang.
Growing Rod
Pada anak yang masih sangat kecil dengan skoliosis berat, dokter dapat menggunakan growing rod, yaitu batang khusus yang dapat disesuaikan mengikuti pertumbuhan tulang belakang.
Schroth Method
Selain terapi utama, beberapa pasien juga mendapatkan latihan khusus menggunakan Schroth Method.
Metode ini merupakan latihan fisioterapi yang dikembangkan di Jerman dan bertujuan untuk:
- Memperbaiki postur.
- Melatih pola pernapasan.
- Memperkuat otot yang lemah.
- Mengurangi progresi kelengkungan.
Latihan dilakukan secara individual dengan pendampingan fisioterapis.
Apakah Skoliosis Bisa Sembuh?
Perlu dipahami bahwa tujuan utama terapi skoliosis bukan membuat sudut Cobb kembali menjadi nol.
Pengobatan bertujuan untuk:
- Mencegah kelengkungan bertambah berat.
- Menjaga fungsi tulang belakang.
- Mengurangi nyeri bila ada.
- Memperbaiki postur tubuh.
- Meningkatkan kualitas hidup.
Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar anak dengan skoliosis dapat tetap bersekolah, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Pengobatan Skoliosis di RSPUR Banda Aceh
RSPUR menyediakan layanan penanganan skoliosis secara komprehensif, mulai dari diagnosis hingga terapi lanjutan.
Dokter Spesialis Bedah Ortopedi
Tim dokter ortopedi RSPUR meliputi:
- dr. Muhammad Arief Faisal, M.Kes., Sp.OT(K)
- dr. Ikhwan, Dr.Ortho, Sp.OT
- dr. Muhammad Rizal, Sp.OT
Fasilitas Pendukung
Penanganan skoliosis didukung oleh berbagai fasilitas, antara lain:
- Laboratorium
- Radiologi
- Rontgen tulang belakang
- Fisioterapi
- Rehabilitasi Medik
- Ruang Operasi
- Rawat Inap
- ICU dan PICU
Apakah Ditanggung BPJS?
Ya.
Konsultasi dokter spesialis, pemeriksaan penunjang, penggunaan brace sesuai indikasi, hingga tindakan operasi dapat ditanggung BPJS Kesehatan sesuai prosedur rujukan dan ketentuan yang berlaku.
Latihan untuk Skoliosis di Rumah
Selain observasi, penggunaan brace, maupun tindakan operasi, dokter dapat merekomendasikan latihan tertentu untuk membantu memperbaiki postur dan menjaga kekuatan otot penyangga tulang belakang.
Seluruh latihan sebaiknya dilakukan di bawah arahan dokter atau fisioterapis, karena latihan yang tidak sesuai dapat memperburuk kelengkungan tulang belakang.
Latihan yang Sering Direkomendasikan
Beberapa latihan yang umum diberikan antara lain:
- Core strengthening, seperti plank dan bird-dog untuk memperkuat otot inti.
- Stretching unilateral pada sisi otot yang lebih tegang.
- Latihan pernapasan Schroth untuk membantu koreksi postur.
- Berenang, terutama gaya punggung.
- Pilates dengan pengawasan tenaga profesional.
- Yoga yang dimodifikasi sesuai kondisi pasien.
Tujuan latihan bukan untuk meluruskan tulang belakang sepenuhnya, tetapi membantu menjaga keseimbangan otot, memperbaiki postur, serta meningkatkan kualitas hidup.
Olahraga yang Dianjurkan
Sebagian besar anak dengan skoliosis tetap dianjurkan untuk aktif berolahraga.
Olahraga yang umumnya aman meliputi:
- Berenang
- Bersepeda
- Jalan kaki
- Pilates
- Yoga dengan modifikasi
- Latihan penguatan otot inti
Aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga fleksibilitas tubuh, memperkuat otot penyangga tulang belakang, serta mendukung kesehatan secara menyeluruh.
Olahraga yang Perlu Diperhatikan
Beberapa jenis olahraga memerlukan evaluasi dokter terlebih dahulu, terutama pada anak dengan kelengkungan sedang hingga berat.
Contohnya:
- Angkat beban berat
- Balet intensif tanpa pengawasan
- Olahraga kontak dengan risiko benturan tinggi
- Aktivitas yang memberikan tekanan berlebihan pada tulang belakang
Dokter atau fisioterapis akan memberikan rekomendasi olahraga yang paling sesuai berdasarkan derajat skoliosis dan kondisi masing-masing anak.
Mengapa Memilih RSPUR untuk Penanganan Skoliosis?
RSPUR menyediakan layanan penanganan skoliosis secara menyeluruh mulai dari pemeriksaan awal hingga terapi lanjutan.
Keunggulan layanan meliputi:
- Dokter spesialis bedah ortopedi berpengalaman
- Dokter spesialis anak
- Laboratorium dan Radiologi
- Pemeriksaan rontgen tulang belakang
- Fisioterapi
- Rehabilitasi Medik
- Ruang Operasi modern
- Rawat Inap
- ICU dan PICU
- Pelayanan BPJS sesuai ketentuan yang berlaku
Dengan layanan yang terintegrasi, pasien dapat memperoleh diagnosis, pemeriksaan penunjang, konsultasi spesialis, hingga penanganan lanjutan dalam satu rumah sakit.
Hubungi RSPUR Banda Aceh
Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR)
📍 Jl. Sekolah No. 5, Gampong Ateuk Pahlawan, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23241
📞 Telepon: (0651) 35092
📱 WhatsApp Informasi & Janji Temu: 0811-6835-551
🚑 IGD 24 Jam: 0813-8883-5092
🌐 Website: https://www.rspur.co.id
Jadwal Dokter
https://www.rspur.co.id/jadwal
Buat Janji Temu Online
Kesimpulan
Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang dapat berkembang seiring pertumbuhan anak. Meskipun sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, perubahan postur seperti bahu tidak sejajar, pinggang asimetris, atau tulang belikat yang menonjol perlu menjadi perhatian.
Dengan deteksi dini, pemeriksaan yang tepat, serta penanganan sesuai derajat kelengkungan, sebagian besar anak dengan skoliosis dapat tumbuh dan beraktivitas secara normal. Apabila Anda melihat tanda-tanda skoliosis pada anak, segera konsultasikan dengan dokter agar evaluasi dan terapi dapat dilakukan sedini mungkin.
Disclaimer Medis
Artikel ini bertujuan sebagai informasi dan edukasi kesehatan serta tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Jika anak mengalami perubahan bentuk tulang belakang, nyeri punggung yang menetap, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter spesialis. Dalam kondisi darurat, segera menuju IGD 24 Jam RSPUR.
Daftar Pustaka
- Scoliosis Research Society (SRS). Scoliosis in Children and Adolescents. https://www.srs.org/patients/conditions/scoliosis
- American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Scoliosis in Children and Adolescents: Diagnosis and Treatment. Clinical Practice Guideline. 2023.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.
- Hresko MT, Talwalkar V, Schwend RM, et al. Clinical Practice Guideline for the Screening of Scoliosis in Children and Adolescents. Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons. 2022.
- Weinstein SL, Dolan LA, Cheng JCY, et al. Adolescent Idiopathic Scoliosis. The Lancet. 2008.
- Grauers A, Danielsson A, Karlsson M, et al. Family History and Its Association to Curve Size in Patients with Adolescent Idiopathic Scoliosis. Spine. 2020.
- Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati (RSPUR). Profil Layanan dan Dokter RSPUR. https://www.rspur.co.id
- Sharma S, Londono D, Wise CA, et al. A PAX1 Enhancer Locus Is Associated with Susceptibility to Idiopathic Scoliosis in Females. Nature Communications. 2015.
- Negrini S, Donzelli S, Aulisa AG, et al. SOSORT Guidelines: Orthopaedic and Rehabilitation Treatment of Idiopathic Scoliosis During Growth. 2018.
- Weinstein SL, Dolan LA, Wright JG, Dobbs MB. Effects of Bracing in Adolescents with Idiopathic Scoliosis. New England Journal of Medicine. 2013.
- Schreiber S, Parent EC, Hedden DM, et al. The Effect of Schroth Exercises on Curve Severity and Quality of Life in Adolescent Idiopathic Scoliosis. Prosthetics and Orthotics International. 2020.
- World Health Organization (WHO). Musculoskeletal Conditions: Scoliosis Fact Sheet. Geneva: WHO; 2023.
Pertanyaan Umum
Apakah skoliosis pada anak bisa sembuh tanpa operasi?
Pada skoliosis ringan (kurva 10°–25°), observasi dan kontrol berkala sering kali sudah cukup. Untuk kurva sedang (25°–45°), penggunaan brace dapat membantu mencegah kelengkungan bertambah sehingga operasi tidak selalu diperlukan. Operasi umumnya dipertimbangkan bila kurva lebih dari 45°–50° atau terus mengalami progresi.
Di Banda Aceh, ke dokter apa untuk memeriksa skoliosis anak?
Pemeriksaan awal dapat dilakukan oleh **dokter spesialis anak**. Apabila ditemukan dugaan skoliosis, pasien akan dirujuk ke **dokter spesialis bedah ortopedi** untuk pemeriksaan lebih lanjut, termasuk evaluasi menggunakan foto rontgen dan pengukuran sudut Cobb.
Apakah pengobatan skoliosis ditanggung BPJS?
Ya. Konsultasi dokter spesialis, pemeriksaan penunjang, penggunaan brace sesuai indikasi medis, hingga tindakan operasi dapat ditanggung BPJS Kesehatan sesuai sistem rujukan dan ketentuan yang berlaku.
Pada usia berapa skoliosis paling sering ditemukan?
Skoliosis paling sering terdiagnosis pada usia **10–15 tahun**, yaitu saat anak memasuki masa pertumbuhan cepat (*growth spurt*). Karena itu, skrining rutin pada anak usia sekolah sangat dianjurkan, terutama apabila terdapat riwayat skoliosis dalam keluarga.
Apakah anak dengan skoliosis boleh berolahraga?
Boleh. Bahkan sebagian besar anak dengan skoliosis dianjurkan tetap aktif berolahraga sesuai rekomendasi dokter. Olahraga membantu memperkuat otot, menjaga fleksibilitas, dan meningkatkan kualitas hidup.
